PapanGame.Com - Banyak yang berkata bahwa game hanya memiliki efek negatif, terlebih jika yang mengatakan tersebut bukanlah seorang gamer seperti kerabat maupun orang tua. Mereka pasti akan menyimpulkan bahwa game hanya menguras waktu, menjadikan seseorang menjadi pemalas, menghambur-hamburkan uang dan lain sebagainya. Memang sih hal tersebut ada benarnya juga. Namun, perlu diketahui juga bahwa game tidak sekedar hanya berdampak buruk bagi seseorang.
Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam otak seorang gamer, penelitianpun dilakukan oleh University of Utah School of Medicine di Amerika Serikat serta Chung-An University di Korea Selatan terhadap lebih dari 200 remaja pria untuk menemukan dan mencari tahu mengenai efek game tersendiri terhadap gamer.
Dan, penelitian tersebut berhasil mendapatkan hasil bahwa gamer memiliki koneksi antar bagian otak yang berbeda apabila dibandingkan dengan mereka yang bukan seorang gamer. Dan beberapa dari mereka yang memiliki tingkat adiksi kronis memiliki kondisi “Hyperconnectivity” yang memungkinkan otak dari gamer tersebut untuk terhubung antar otak atas beberapa jembatan sekaligus dan bukannya satu.
Lalu apa efeknya bagi gamer? Hal-hal ini dapat menjadikan seorang gamer untuk memiliki kemampuan visual serta mendengar yang lebih baik dan koordinasi yang lebih cepat tentunya. Hal ini menjadikan seorang gamer selalu waspada terhadap beragam hal disekitar dan selalu siap untuk mengambil tindakan tertentu bila dibutuhkan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Otak gamer lebih efesien dari orang biasa
Baca juga:
- SteamDB Calculator, Cari tahu harga akun Steam Anda Disini
- Melalui Game League of Legends, seorang anak 12 tahun menghasilkan 64 juta Rupiah dalam sebulan
- 5 Game Simulasi Paling Tidak Penting Yang Pernah Dibuat (Bagian Pertama)
Kendati demikian, gamer dengan otak yang demikian memiliki perhatian yang gampang teralihkan. Serta jembatan antar otak juga kerap di jumpai pada pasien-pasien psikologis seperti Schizopherenia, down syndrome, dan juga autisme. Serta Hyperconnectivity antar dua region ini kerap ditemukan pada mereka yang memiliki kontrol diri yang sangat minim.
Dan peneltian ini ditutup dengan kesimpulan yang tidak definif dimana mereka belum dapat memastikan bahwa “Apakah video game yang membuat otak mereka demikian?” atau “Otak demikianlah yang menjadikan gamer sebagai hobi mereka?”.
Bagaimana dengan anda sendiri? Punya pandangan tersendiri terhadap hasil penelitian ini?
Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam otak seorang gamer, penelitianpun dilakukan oleh University of Utah School of Medicine di Amerika Serikat serta Chung-An University di Korea Selatan terhadap lebih dari 200 remaja pria untuk menemukan dan mencari tahu mengenai efek game tersendiri terhadap gamer.
Dan, penelitian tersebut berhasil mendapatkan hasil bahwa gamer memiliki koneksi antar bagian otak yang berbeda apabila dibandingkan dengan mereka yang bukan seorang gamer. Dan beberapa dari mereka yang memiliki tingkat adiksi kronis memiliki kondisi “Hyperconnectivity” yang memungkinkan otak dari gamer tersebut untuk terhubung antar otak atas beberapa jembatan sekaligus dan bukannya satu.
Lalu apa efeknya bagi gamer? Hal-hal ini dapat menjadikan seorang gamer untuk memiliki kemampuan visual serta mendengar yang lebih baik dan koordinasi yang lebih cepat tentunya. Hal ini menjadikan seorang gamer selalu waspada terhadap beragam hal disekitar dan selalu siap untuk mengambil tindakan tertentu bila dibutuhkan. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa Otak gamer lebih efesien dari orang biasa
Baca juga:
- SteamDB Calculator, Cari tahu harga akun Steam Anda Disini
- Melalui Game League of Legends, seorang anak 12 tahun menghasilkan 64 juta Rupiah dalam sebulan
- 5 Game Simulasi Paling Tidak Penting Yang Pernah Dibuat (Bagian Pertama)
Kendati demikian, gamer dengan otak yang demikian memiliki perhatian yang gampang teralihkan. Serta jembatan antar otak juga kerap di jumpai pada pasien-pasien psikologis seperti Schizopherenia, down syndrome, dan juga autisme. Serta Hyperconnectivity antar dua region ini kerap ditemukan pada mereka yang memiliki kontrol diri yang sangat minim.
Dan peneltian ini ditutup dengan kesimpulan yang tidak definif dimana mereka belum dapat memastikan bahwa “Apakah video game yang membuat otak mereka demikian?” atau “Otak demikianlah yang menjadikan gamer sebagai hobi mereka?”.
Bagaimana dengan anda sendiri? Punya pandangan tersendiri terhadap hasil penelitian ini?